// you’re reading...

Kontemporer

Inikah Kaligrafi Kontemporer?

Berjudul “Menyiasati Keindahan Yaasiin“, Majalah Tempo edisi minggu ini menurunkan liputannya. Pada rubrik Seni (Rupa) –yang setiap edisi selalu menghadirkan berita seputar kesenian di sekitar kita– itu memang judulnya tampak “menggoda” pembaca. Seperti saya, ketika membolak-balik halaman pinjaman dari teman kantor –maaf saya tidak berlangganan–, begitu terperangah oleh ulah para seniman yang dipamerkan di Jogja Gallery, Jogjakarta.

Terperangah bukan karena keindahannya. Tetapi karena keanehan yang dihadirkan. Betapa tidak, ketika surah dalam Alquran “diterjemahkan” oleh para seniman, mereka seolah-oleh hendak “mencampurkan” ayat-ayat dengan representasi pribadi atau “tafsir sendiri” pada ayat-ayat yang dimuliakan.

Memang, dalam pengantar tulisan sudah diwanti-wanti perihal “keanehan-keanehan” itu. Di san tertulis, “Dengan gayanya sendiri, puluhan perupa berusaha menerjemahkan surat Yaasiin ke dalam elemen rupa secara bebas.”

“Surat Yaasiin diterjemahkan secara bebas?” seolah saya ingin berteriak.

Seperti contoh, karya Edo Pillu bertajuk Monalisa Mampir di Surga, dengan “seenaknya” si pelukis menjiplak ayat-ayat surat Yaasiin di atas lukisan “Monalisa contekan”.

Dalam foto penyerta liputan, saya lihat lukisan “Monalisa” yang dibubuhi tulisan surat Yaasiin, persis seperti yang tertulis di Mushaf Utsmani –mulai dari bentuk tulisan mau pun penomoran ayat.

Dari mana unsur indahnya? Di sini pelukis seolah-oleh hendak menggabung kan dua hal yang jauh berlainan. Jadinya: aneh, tidak nyambung, dan mengada-ada.

Andai si pelukis melukis “Monalisa” seperti yang ada di museum Louver, Paris, misalnya, lukisan itu masih dapat dinikmati sebagai karya duplikasi. Unsur seninya masih ada meski nilainya sudah hilang karena karya itu adalah contekan. Namun ketika dibubuhkan jiplakan halaman surat Yaasiin, objek lukisan itu sendiri terhalang oleh huruf-huruf berwarna merah menyala yang dia gunakan.

Akankah tulisan ini dinikmati? Saya rasa tidak. Alih-alih dinikmati dan dibaca, menggunakan tinta warna merah saja sudah terkesan “sangar”. Apalagi menulis ayat-ayat Alquran di atas sebuah objek manusia. Sungguh jauh dari adab menulis kaligrafi.

Choiruddin misalnya, salah seorang pelukis lain yang berpartisipasi, melukis berupa sosok lelaki bertelanjang dada dengan bentuk hati. Di bagian dada dalam warna hijau diisi potongan teks Alquran. Meski melukisnya dengan gaya yang pakem, lukisan berjudul The Other Side of Human mengandung tanda tanya: kenapa ayat-ayat Alquran tertulis di lelaki yang bertelanjang dada? Agaknya lukisan ini mengandung tafsir sendiri. Hanya pelukisnya yang bisa menjelaskan kenapa, bagaimana, dan pertanyaan lain seputarnya.

Karya Catur Sugeng Kurniawan juga turut menghiasi halaman Majalah Tempo masih terlihat “sopan”. Di sana, dia menggambarkan aksara Arab bertaburan menutup siluet tubuh bagian atas figur manusia dalam warna monokrom lewat karya berjudul Low and Lose. Objek manusia –yang dilarang dalam sejarah Islam lewat lukisan– rupanya telah menjadi objek dalam seni “islami” kali ini.

Seperti inikah lukis kaligrafi kontemporer?

Entahlah, rasanya saya semakin muak dengan jenis-jenis kaligrafi yang kadang sangat “memaksa”.

Bolehlah Ramadan di isi oleh pameran-pameran semacam ini. Namun harusnya memandang karya itu sendiri: apakah layak untuk dipamerkan kepada khayalak –yang tentu saja salah satu dari mereka sangat mengerti tentang kaligrafi–? Jangan-jangan hanya “kejar setoran” mumpung bulan suci, kemudian mengambil tema-tema keislaman. Seperti acara televisi, ketika Ramadan penuh dengan acara-acara agamis yang justru sangat jauh dari nilai-nilai.

Posting yang berkaitan

Discussion

6 comments for “Inikah Kaligrafi Kontemporer?”

  1. Masih untung yang dilukis monalisa. kalo maria ozawa? berjudul maria ozawa masuk surga, apa jadinya?

    ck..ck.. seniman memang suka mengejar bombastis saja tanpa memedulikan melanggar etika atau tidak.

    Posted by ade | September 26, 2008, 00:19
  2. apalagi ternyata para seniman yg ikut pameran ternyata tidak tau kaidah menulis kaligrafi. jadinya ngawur.

    Posted by ela estyana | September 26, 2008, 16:29
  3. ramadhan tiba…
    ramadhan tiba…
    *nyanyi ala opick*

    aktris sinetron pada berjilbab
    semua penyanyi bikin lagu reliji
    seniman ikut2an pameran kaligrafi

    lengkap sudah…

    Posted by m. nashruddin | September 26, 2008, 16:37
  4. tu orang awam saja bisa ngexpresikan kengawurannya

    Posted by burhan | Oktober 14, 2009, 19:24
  5. Seniman islam mungqn sudah kehabisan ide,n duit jd ngawwur ajalah hihihi

    Posted by Kertas hijau | Maret 31, 2010, 19:33
  6. lha wong seniman edyan og…ha ha ha……..

    Posted by lopez | April 15, 2010, 08:31

Post a comment