Maafkan saya sebelumnya jika membuat judul posting yang menyinggung.
Ada banyak tujuan ketika seseorang memajang kaligrafi di rumah. Salah satu yang pernah saya temui: kaligrafi sebagai pengusir setan!
Saya tidak mengada-ada.
Suatu kali, sebuah pondok pesantren yang baru dibangun membutuhkan dana. Sang kiai pengelola pondok kemudian mendapatkan ide untuk mengumpulkan dana. “Kalau sekadar mencari sumbangan ke rumah-rumah, itu sudah kuno. Hasilnya pun tidak seberapa,” barangkali begitu pikirnya. Apalagi fenomena pencari sumbangan seperti ini membuat wajah Islam makin “bopeng” akibat perilaku para penipu.
Karena sudah berbekal ilmu ekonomi yang cukup, akhirnya sang kiai membuat produk murah tapi berharga tinggi: sebuah kaligrafi bertuliskan basmalah. Tentu ini merupakan sebuah ide yang brilian, membuat produk dengan biaya serendah-rendahnya, kemudian menjualnya dengan harga seikhlasnya.
Maksud harga seikhlasnya adalah sang penyumbang boleh menyumbang lebih banyak. Ketika menawarkan kepada orang kaya, kaligrafi ini memiliki nilai beli tinggi. Tetapi ketika menawarkan kepada orang berekonomi pas-pasan, kaligrafi boleh ditawar semampunya. Pokoknya, selain pahala, ada produk yang ditawarkan.
Seorang kaligrafer diundang untuk membuatnya.
Tidak sulit untuk membuat tulisan basmalah. Dengan gaya tsuluts yang banyak diperoleh dari contoh-contoh kaligrafi, akhirnya kaligrafi itu selesai. Berlatar belakang hijau, seperti warna surga dan juga simbol agama. Di bawahnya kemudian diberi kutipan “hadist” yang menyatakan bahwa “barang siapa yang menggantung basmalah di rumah sebanyak xx kali, maka tidak ada setan maupun jin yang memasukinya“.
Dari goresan sang kaligrafer kemudian dicetak untuk diperbanyak dan disebarkan ke beberapa pelosok desa. Yang kurang menguntungkan, rata-rata penduduk desa berekonomi rendah. Tetapi ada juga yang menyumbang lebih, meski nilai produk tidak seberapa.
Hasilnya?
Ternyata cukup efektif. Dari beberapa pintu yang dimasuki, rata-rata masyarakat sangat tertarik dengan produk kaligrafi “pengusir setan” yang ditawarkan. “Itung-itung sambil bersedekah untuk pembangunan pondok pesantren,” kata si penyebar kaligrafi.
Si pemilik rumah senang, si pencari sumbangan senang. Ada-ada saja cara kiai yang satu ini untuk mencari dana.
Yang janggal bagi saya: bunyi hadist di bawah kaligrafi itu, seolah memberi legitimasi harga yang sangat tinggi. Siapa yang tidak ingin rumah terlindungi? Ah, barangkali Anda juga tertarik kaligrafi ini?


berarti sang kiai telah mengamalkan kata sayidina ali bahwa kaligrafi termasuk pintu rezeki.
Yeah, ada benarnya juga sih, asal memang sama-sama ‘bersih’ dalam bertransaksi, tidak menimbulkan mudharat.
Asal si penjual tidak ada maksud mengkomersialkan agama, dan pembeli tidak ada maksud menggantungkan keamanannya pada goresan tinta, tanpa tau bahwa segalanya bersumber pada Alloh.