// you’re reading...

Sejarah

Tulisan Pinggir

Judul di atas bukan meniru-niru catatan Goenawan Mohamad yang terkenal di majalah Tempo itu, melainkan memang benar-benar tulisan yang berada di tepi. Entah dari mana tradisi ini, di kitab-kitab kuning yang diajarkan di pondok pesantren, sering saya dapati tulisan yang berada di pinggir (selain tulisan di kitab itu sendiri yang dibingkai dalam kotak).

Di dalam kotak adalah tulisan kitab asli, sedangkan di luarnya berisi tulisan lain

Di dalam kotak adalah tulisan kitab asli, sedangkan di luarnya berisi tulisan lain

Biasanya, tulisan yang berada di pinggir merupakan tulisan khulasah (ringkas). Sedangkan tulisan yang ditengah merupakan tulisan yang lebih luas. Dalam bahasa arab, tulisan yang di dalam kotak ini biasanya merupakan syarh (penjelasan).

Seperti di kitab Tafsir Jalalain misalnya, dalam kitab yang tebal itu ternyata tidak hanya ada satu kitab saja, melainkan ada beberapa kitab yang berkaitan. Ada Asbabul Nuzul, sebuah kitab tentang sebab-sebab turun ayat. Ada juga Naskh-Mansukh, keterangan tentang ayat-ayat yang dihapus atau digantikan dengan yang baru.

Tulisan pinggir rupanya merupakan tradisi kuno di mana ketika ada tulisan yang tidak dimengerti, kemudian diberi penjelasan lagi di pinggirnya. Munkin karena dipandang efektif, cara penulisan ini kemudian menjadi cara pengembangan sebuah kitab. Seperti kitab fikih Taqrib yang begitu terkenal sebagai kitab ringkas, kemudian dikembangkan lagi menjadi kitab-kitab yang tebal setelah diberi penjelasan yang panjang. Menjadi fathul mu’in, fathul bari’, dan lain sebagainya (saya tidak hafal berapa jumlah kitab yang lahir dari sebuah kitab fikih ringkas ini).

Ditulis dengan gaya farisi, menjalar dengan arah yang tidak jelas mana yang atas

Lihatlah beberapa tulisan yang lembut di samping naskah

Cara unik ini kemudian berlanjut ke penerjemahan ke dalam bahasa jawa. Aksara jawi, yang ditulis dengan bahasa arab menggunakan bahasa lokal, turut menghiasi kitab-kitab kuning. Dari tempat yang sempit itu, kemudian berkembang huruf-huruf kecil lengkap dengan singkatan-singkatan. Khat riqah yang begitu terkenal kemudian berkembang menjadi lebih sederhana –menjadi khat apa saja yang sesuai penguasaan penulis. Cara yang cukup kuno ini ternyata juga masih berlangsung sampai sekarang.

Posting yang berkaitan

Discussion

One comment for “Tulisan Pinggir”

  1. arya kaka

    Posted by kaka | Juni 16, 2010, 12:37

Post a comment