// you’re reading...

Kliping Media

Sumbu Kompor Ciri Khas Karya Istoyo

Di tengah serbuan seni kontemporer, Pelukis Istoyo dan A. Rochman masih setia bergelut di jalur kaligrafi. Mereka mencoba bertahan dengan memperkaya media lukisan. Termasuk, sumbu kompor dan pasir.

SEBUAH lukisan berukuran 2 x 1,5 meter terpampang di ruang tamu rumah Istoyo di kawasan Sono Indah, Darmo Permai. Warnanya dominan abu-abu terang dan gelap. Petikan Alquran Surat Al-Bayyinah ayat 7 dan 8 persis di tengah bawah. Dikepung berbagai ornamen. Di pojok kanan terdapat tulisan Allah, sedangkan di sisi kiri Muhammad. Keduanya dalam huruf Arab.

Kaligrafi itu salah satu karya Istoyo yang diberi judul Balasan bagi Orang yang Berbuat Baik. Lukisan tersebut tidak dituangkan dalam kanvas biasa. Tapi, kanvas yang direkayasa dengan campuran kertas, semen, dan karung goni.

Sulur-sulur ornamen di kiri-kanan ayat dibuat dari sumbu kompor yang diwarnai dengan cat minyak. Pelukis 36 tahun itu memang ingin memanfaatkan barang-barang di sekitarnya. ’’Sejak ada konversi (minyak tanah ke elpiji, Red), banyak sumbu kompor yang nganggur. Kenapa tidak dimanfaatkan?’’ kata Istoyo.

Kreasi sumbu kompor itu, lanjut dia, merupakan salah satu upaya dirinya untuk mempertahankan eksistensi lukisan kaligrafi di tengah serbuan seni lukis kontemporer. ’’Sekarang banyak pelukis yang terseret dalam arus kontemporer. Tapi, saya nggak mau ikut-ikut karena saya sudah mantep di jalur kaligrafi,’’ ujar ayah dua anak itu.
Apalagi, seni lukis kaligrafi kini mulai pudar. ’’Banyak hal yang menyebabkan pudarnya seni lukis kaligrafi,’’ ungkap alumnus seni rupa Unesa itu. Di antaranya, kurangnya kurator muslim yang paham seni lukis. Selain itu, kaligrafi kurang diapresiasi dalam kompetisi-kompetisi pelukis.
Ketertarikan Istoyo pada kaligrafi sebetulnya tidak datang tiba-tiba. Ketika duduk di bangku kuliah, pria kelahiran 5 Agustus 1972 itu menekuni lukisan abstrak. Namun, dia tidak ’’khusyuk’’ di jalur konvensional yang mengandalkan media cat dan kanvas saja, tapi juga tertarik pada lukisan media campuran atau mix media.

Dia membuat lukisan abstrak dengan media kayu tripleks dan beragam jenis kertas, termasuk kertas sablon. Karyanya tersebut sempat ditentang pihak kampus karena tidak bisa dianggap sebagai lukisan. ’’Biasa Mbak, orang-orang konvensional. Bagi mereka, yang namanya lukisan ya pakai cat minyak, kuas, dan kanvas,’’ ujarnya.

Padahal, bagi Istoyo, lukisan merupakan bentuk kebebasan berekspresi. ’’Pemakaian bahan-bahan tersebut merupakan bukti kebebasan saya. Kalau dibatasi dengan cat, kuas, dan kanvas saja, ya namanya bukan seni lukis,’’ tegasnya.

Mempertahankan prinsip, Istoyo pun terlibat dalam perdebatan panjang dengan para dosennya. Akhirnya, lukisan mix media milik Istoyo pun diakui sebagai lukisan. Itu terjadi pada 1998.
Sejak itu, Istoyo semakin memantapkan diri di jalur mix media atau disebut juga kolase. Namun, lima tahun kemudian, suami Isnawati itu mengalami kejenuhan dalam berkarya.

Kejenuhan tersebut, antara lain, dipicu tujuan berkarya yang semata-mata menyenangkan sang penikmat lukisannya. ’’Saya jadi males kalau setiap karya cuma dilihat bagus tidaknya,’’ katanya. ’’Maksudnya, apa yang saya buat itu cuma untuk menyenangkan orang lain,’’ sambungnya. Dia menilai karya seninya tidak menyimpan misi tertentu.

Istoyo pun melirik seni kaligrafi. Namun, dia sadar itu tidak mudah. Selain harus paham betul isi dan kaidah kitab suci Alquran, dia juga dituntut mampu menyampaikan syiar atau dakwah lewat lukisannya. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Istoyo. Apalagi, waktu itu dia mengaji saja tidak bisa.

Dia kemudian bergabung dengan beberapa organisasi Islam untuk memperdalam ilmu agama, belajar ngaji, sekaligus mempelajari seni kaligrafi. Di antaranya, di Islamic Center dan Forum Silaturahmi Remaja Masjid Kota Surabaya. Di forum Remaja Masjid, dia bahkan menjadi pengurus.

Sejak mendalami agama, Istoyo mulai menghasilkan sejumlah karya seni lukis kaligrafi. Namun, dia belum berani berpameran. ’’Awalnya masih coba-coba dan masih perlu banyak masukan dari teman-teman. Jadi, belum berani unjuk karya,’’ jelasnya.

Dia juga tidak langsung menggunakan sumbu kompor. Tapi, memilih ranting-ranting kayu dan fiber yang dicampur resin. Dia juga banyak menggunakan bahan yang kerap dipakai tukang kayu. Misalnya, sampolac untuk melapisi lemari kayu atau isamu yang berfungsi sebagai pelapis kayu. Untuk mendalami kegunaan benda-benda tersebut, Istoyo banyak bergaul dengan tukang kayu.

Secara ’’teknis’’ dia berhasil membuat karya seni kaligrafi dengan media tersebut. Tapi, ada suatu hal yang dirasa kurang dalam karyanya. ’’Lukisan saya kurang menggambarkan kemegahan dan keteduhan yang seharusnya ditampilkan dalam kaligrafi,’’ ujar pria asli Surabaya tersebut.

Lukisan kaligrafi itu, lanjut dia, harus bisa menimbulkan perasaan sejuk yang memandangnya. ’’Sama seperti kalau kita masuk masjid, rasanya kan teduh. Nah, itu yang masih belum bisa saya lakukan waktu itu,’’ ungkapnya.

Karena itu, Istoyo banyak berkonsultasi dengan rekan-rekannya di organisasi. Dari situ, dia banyak mendapat masukan. Dengan terus mencoba, akhirnya dia berhasil menuangkan kesan megah sekaligus teduh dalam lukisan kaligrafinya.

Lewat bentuk-bentuk simetris dengan variasi tekstur serta ayat Alquran yang dilukis penuh makna, Istoyo menyuguhkan seni ornamen Islam dengan apik. Sebagai media, dia banyak menggunakan semen, slang air, sampai sumbu kompor.

Bahkan, dia mengaku sudah mantap memanfaatkan sumbu kompor sebagai salah satu ciri khasnya dalam berkarya. ’’Saya ingin orang tahu bahwa lukisan sumbu kompor itu pasti karya Istoyo,’’ tegasnya lantas tersenyum.

Pelukis muda A. Rochman juga concern pada seni ornamen Islam tersebut. Dia memang terbilang baru di dunia seni lukis kaligrafi. Namun, semangatnya menggebu.

Jika Istoyo memilih sumbu kompor sebagai media, Rochman lebih suka berkreasi dengan pasir. Meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang seni, pria kelahiran 13 April 1966 tersebut sejak kecil gemar menggambar. Bakat itu terus dikembangkan hingga duduk di bangku SMA.

Semula, pria yang tinggal di kawasan Gundih itu menekuni lukisan realis. Namun, dia memutuskan berpindah jalur ketika mendengar dari kawannya bahwa banyak kendala yang dihadapi para pelukis realis. ’’Teman saya pernah cerita bahwa melukis realis itu tidak mudah. Apalagi jika lukisannya tidak persis dengan aslinya. Kliennya banyak yang komplain,’’ jelasnya.

Akhirnya, Rochman memutuskan menekuni jalur seni lukis yang lain. Pilihannya jatuh pada kaligrafi. Menurut pria yang pernah mondok di pondok pesantren itu, seni lukis kaligrafi menyimpan beberapa keistimewaan. ’’Lewat lukisan kaligrafi, kita para pelukis bisa syiar (dakwah, Red) sekaligus menampilkan sebuah karya seni,’’ jelasnya.

Pada 2002, pria lajang tersebut mantap menekuni lukisan kaligrafi. Dia banyak berguru kepada para pelukis kaligrafi senior seperti Amri Yahya dan A.D. Pirous.

Semula, Rochman hanya berkutat dengan cat cair dan kanvas. Namun, seiring perkembangan zaman, dia pun bereksplorasi dengan bahan-bahan lain seperti pasir bangunan. ’’Saya bosan dengan alas kanvas yang flat. Saya ingin yang sedikit bergelombang. Karena itu, saya pilih pasir,’’ ujarnya.

Pasir tersebut diayak, kemudian dicampur dengan lem, baru ditempelkan ke kanvas. Di atas alas bertekstur tersebut, Rochman melukis ayat-ayat Alquran.

Dia juga memilih pasir sebagai ciri khasnya dalam berkarya pada masa-masa yang akan datang. ’’Saya kepingin pameran tunggal menampilkan karya-karya saya dengan tekstur pasir,’’ katanya. (*)

Sumber: Jawa Pos

Random Posts

Discussion

One comment for “Sumbu Kompor Ciri Khas Karya Istoyo”

  1. saya adalah kaligrafer dr kota pemalang di jawa tengah
    saya ingin memasarkan karya saya.ingin kerja sama

    Posted by nurichsan | Januari 14, 2010, 22:17

Post a comment