Setelah hampir lima bulan menggunakan theme putih, Panduan Kaligrafi mencoba hadir dengan tampilan baru. Meski sama-sama putih, tampilan kali ini tampak lebih ’segar’. Karena sudah menjadi sifat manusia yang mudah bosan, tampilan yang sudah menarik perlu dibikin menarik lagi.
“Dari dulu yang dilihat itu-itu saja,” komentar teman saya pada sebuah kaligrafi, “lama-lama akan bosan juga.” Kaligrafi yang awalnya dipajang begitu memesona, akhirnya pudar “dimakan usia”. Untuk itulah, kemudian kita perlu karya baru. Seperti halnya kaligrafi, begitu pula blog. Namun untuk sekadar tampilan blog, bolehlah gonta-ganti dengan yang baru, diganti lagi, kemudian ganti lagi.
Terus terang, tampilannya masih agak kacau sana-sini. Semula saya ingin menggunakan web berbahasa Indonesia penuh secara baik dan benar. Namun karena kendala pengeditan theme yang aslinya berbahasa Inggris, jadi sebagian masih menggunakan bahasa Inggris. Meski sebenarnya blog ini menggunakan bahasa Indonesia, saya suka menu-menu yang ada di blog ini menggunakan bahasa Inggris. Selain mudah dikenali oleh pengunjung asing, blog ini akhirnya juga dikenali oleh mesin pencari sekelas Google.
Ada yang baru dari tampilan blog ini yang mungkin membingungkan pengunjung baru. Yakin Featured Post yang terletak di bawah Latest Post, posting baru yang biasanya berada di atas. Ada juga asides yang berfungsi sebagai posting kecil sebagai “anak posting”. Pengunjung mungkin agak sedikit kebingungan dengan posting mana yang baru –jika memang mencari posting terbaru. Namun tak perlu risau, semua yang ada di halaman utama rata-rata adalah yang terbaru dari semua posting.
Hal yang saya sukai dari tampilan baru ini adalah anak posting yang membuat saya lebih leluasa untuk mengetengahkan posting tentang hal kecil yang “tidak perlu mikir”, seperti link yang berkaitan dengan kaligrafi dan lain sebagainya.
Terakhir, Jika Anda tertarik untuk menulis bersama dengan saya, masih terbuka lebar pintu untuk mendaftar sebagai penulis di Panduan Kaligrafi :)



Discussion
No comments for “Desain Baru”