<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Panduan Kaligrafi &#187; Hukum</title>
	<atom:link href="http://www.panduankaligrafi.com/category/hukum/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.panduankaligrafi.com</link>
	<description>Tempat belajar kaligrafi, contoh-contoh, dan sejarah.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 Jul 2009 23:17:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menghias Masjid dengan Kaligrafi, Haramkah? [bagian 2]</title>
		<link>http://www.panduankaligrafi.com/2008/09/menghias-masjid-dengan-kaligrafi-haramkah-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.panduankaligrafi.com/2008/09/menghias-masjid-dengan-kaligrafi-haramkah-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 22:27:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aly Imron</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafi Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Menghias Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panduankaligrafi.com/?p=404</guid>
		<description><![CDATA[Masalah menghias masjid memang diperselisihkan para ulama di masa lalu. Namun perselisihan mereka berangkat dari kenyataan bahwa hiasan itu sangat mahal, karena terbuat dari ukiran kaligrafi dan aksesorisnya yang terbuat dari emas dan perak. Hiasan seperti itu tentu sangat mahal harganya.
Adapun hiasan yang biasa kita lihat di masjid-masjid di sekeliling kita ini, tidak lain hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masalah menghias masjid memang diperselisihkan para ulama di masa lalu. Namun perselisihan mereka berangkat dari kenyataan bahwa hiasan itu sangat mahal, karena terbuat dari ukiran kaligrafi dan aksesorisnya yang terbuat dari emas dan perak. Hiasan seperti itu tentu sangat mahal harganya.</p>
<p>Adapun hiasan yang biasa kita lihat di masjid-masjid di sekeliling kita ini, tidak lain hanya terbuat dari cat tembok, rasanya tidak ada nash yang secara langsung melarangnya. Sedangkan, bila hiasan itu sampai menghabiskan dana yang sangat besar, misalkan menghabiskan emas berton-ton, banyak para ulama di masa lalu yang memakruhkannya. Bahkan ada yang mengharamkannya.</p>
<p>Hal ini mengingat masjid nabawi di masa Rasulullah SAW itu sangat sederhana. Hanya sebagiannya yang beratap, itupun hanya berupa daun kurma. Alasnya bukan marmer, tetapi tanah atau pasir. Tiangnya bukan beton tetapi hanya batang-batang kurma. Dan hal itu terjadi hingga masa Al-Khulafa&#8217; Ar-Rasyidun. Barulah pada masa khilafah Al-Walid bin Abdil Malik, masjid-masijd dihias dengan berlebihan, yaitu dengan ukiran kaligrafi dari emas dan perak.</p>
<p>Realitas ini kemudian disimpulkan oleh sebagian ulama sebagai isyarat tidak bolehnya kita menghias masjid dengan hiasan yang mewah. Bahkan oleh sebagiannya dianggap bid&#8217;ah, buang harta dan haram. Namun masalah ini memang sejak awal termasuk masalah khilaf pada fuqaha. Bahkan ke-empat imam mazhab utama pun tidak seragam pendapatnya.<span id="more-404"></span></p>
<p><strong>1. Al-Hanafiyah</strong><br />
Al-Hanafiyah beranggapan bahwa tidak mengapa untuk menghias masjid dengan beragam ukiran dan kaligrafi. Asalkan bukan pada bagian mihrabnya. Alasannya, agar orang yang shalat tidak terganggu konsentrasinya. Yang dimaksud ukiran di masjid adalah membuat hiasan dengan tatahan emas atau perak.</p>
<p>Namun bila dana yang digunakan untuk hiasan itu berasal dari harta waqaf secara umum yang niatnya untuk masjid, menurut beliau hukumnya haram. Jadi yang boleh adalah harta dari seseorang yang niatnya memang untuk keperluan perhiasan itu.</p>
<p><strong>2. Al-Malikiyah</strong><br />
Al-Malikiyah memakruhkan penghiasan dinding masjid, termasuk atapnya, kayunya dan hijabnya, bila hiasan itu terbuat dari emas atau perak dan bila sampai mengganngu konsentrasi para jamah yang shalat. Namun bila hiasan itu di luar apa yang disebutkan, tidak ada kemakruhannya.</p>
<p><strong>3. As-Syafi&#8217;iyah</strong><br />
Mazhab As-Syafi&#8217;iyah sebagaimana yang disebutkan oleh Az-Zarkasyi mengemukakan bahwa mengukir masjid itu hukumnya makruh, terutama bila menggunakan harta waqaf yang diperuntukkan buat masjid secara umum. Sebab harta waqaf buat mereka tidak boleh diubah pemanfaatannya begitu saja.</p>
<p><strong>4. Al-Hanabilah</strong><br />
Al-Hanabilah adalah satu-satunya mazhab yang tegas mengharamkan penghiasan masjid. Buat mereka, bila masjid sudah terlanjur dihias dengan emas dan perak, wajib untuk dicopot.</p>
<p>Pendapat mereka ini dikuatkan juga dengan hadits berikut:</p>
<p>لا تقوم الساعة حتى يَتَباهَى الناس في المساجد</p>
<p><em>Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali orang-orang berbangga-bangga dengan masjid. (HR. Ahmad dan Ashabussunann kecuali At-Tirmizy)</em></p>
<p>Para ulama banyak yang memaknai sabda Rasulullah SAW tentang berbangga-bangga dengan masjid ini sebagai bentuk penghiasan masjid dengan ukiran/kaligrafi emas dan perak pada dindingnya. Dan oleh sebagian ulama dijadikan sebagai isyarat tidak bolehnya kita menghias masjid dengan hiasan yang mewah.</p>
<p>Masalah ini memang merupakan perbedaan pendapat di kalangan para ulama, baik di masa lalu maupun masa sekarang ini. Kita tidak perlu terperosok pada perdebatan panjang masalah ini, karena masing-masing punya dalil yang mereka yakini kebenarannya.</p>
<h2>.</h2>
<p>Sumber: Jawaban tanya jawab soal menghias masjid oleh Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc. di eramuslim.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.panduankaligrafi.com/2008/09/menghias-masjid-dengan-kaligrafi-haramkah-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghias Masjid dengan Kaligrafi, Haramkah? [bagian 1]</title>
		<link>http://www.panduankaligrafi.com/2008/09/menghias-masjid-dengan-kaligrafi-haramkah-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.panduankaligrafi.com/2008/09/menghias-masjid-dengan-kaligrafi-haramkah-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 21:22:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aly Imron</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafi Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panduankaligrafi.com/?p=380</guid>
		<description><![CDATA[Ada pertanyaan yang masih mengganggu di benak saya: apakah hukum menghias masjid dengan kaligrafi?
Kalau kita meneladani Rasulullah dalam membangun masjid, niscaya kita akan mendapati bahwa masjid Rasulullah adalah masjid yang sangat-sangat sederhana: berdinding tanah liat, bertiang batang kurma, berlantai pasir, dan atapnya pelepah kurma.
Diceritakan suatu hari, kaum Anshar mengumpulkan harta dan mendatangi Rasulullah. &#8220;Wahai Rasulullah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada pertanyaan yang masih mengganggu di benak saya: <strong>apakah hukum menghias masjid dengan kaligrafi?</strong></p>
<p>Kalau kita meneladani Rasulullah dalam membangun masjid, niscaya kita akan mendapati bahwa masjid Rasulullah adalah masjid yang sangat-sangat <strong>sederhana</strong>: berdinding tanah liat, bertiang batang kurma, berlantai pasir, dan atapnya pelepah kurma.</p>
<p>Diceritakan suatu hari, kaum Anshar mengumpulkan harta dan mendatangi Rasulullah. &#8220;Wahai Rasulullah, bangunlah masjid dan hiasilah seindah-indahnya dengan harta yang kami bawa ini. Sampai kapan kita harus salat di bawah pelepah kurma?&#8221; Rasulullah kemudian menjawab, &#8220;Aku ingin seperti saudaraku Nabi Musa. Masjidku cukup seperti <em>arisy</em> (gubuk tempat berteduh).&#8221;</p>
<p>Bagi Rasulullah sebuah masjid tidak perlu dibangun dengan mewah. Kesederhanaan tidak menghalangi fungsi sebuah masjid sebagai tempat bersujud kepada Allah dan beribadah. Prinsip itu dipegang teguh oleh beliau sampai wafat. Kemudian diteruskan oleh empat khalifah yang diberi petunjuk <em>(khulafaurrasyidin)</em>: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali r.a.</p>
<p><span id="more-380"></span></p>
<p>Pertanyaan menghias masjid dengan kaligrafi ini, kemudian terjawab oleh rubrik tanya jawab di sebuah website <a href="http://www.almanhaj.or.id" target="_blank">manhaj</a>. <strong>Pertanyaan itu diabadikan di <a href="http://cahayasunnah.wordpress.com/2006/04/15/kaligrafi-di-dalam-masjid/" target="_blank">blog ini</a>.</strong> Berikut kutipannya:</p>
<blockquote><p>Umar bin Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu melarang menghiasi masjid dan memperindahnya, karena yang demikian itu dapat mengganggu salat seseorang. Dan ketika beliau memerintahkan merehab Masjid Nabawi, beliau berkata, &#8220;Lindungilah manusia dari hujan, dan janganlah engkau beri warna merah atau kuning karena akan memfitnah (mengganggu) manusia.&#8221; [Shahih Bukhari 1 : 539]</p>
<p>Kaligrafi ayat-ayat Alquran di dinding masjid termasuk menghiasi masjid, dan mereka (orang-orang) yang menempelkan ayat-ayat yang mulia ini hanya menginginkan menempelkannya dengan sia-sia dan sekedar pemandangan?</p>
<p>Sesungguhnya Alquran tidak layak dijadikan permainan sia-sia dan pemandangan yang menjadi hiasan saja. Sesungguhnya Al-Qur’an lebih tinggi kedudukannya dan lebih agung derajatnya dari sekedar dijadiakn hiasan dinding.</p></blockquote>
<p>Bagimanakah menurut Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.panduankaligrafi.com/2008/09/menghias-masjid-dengan-kaligrafi-haramkah-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
