<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Panduan Kaligrafi &#187; Kontemporer</title>
	<atom:link href="http://www.panduankaligrafi.com/category/jenis/kontemporer-jenis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.panduankaligrafi.com</link>
	<description>Tempat belajar kaligrafi, contoh-contoh, dan sejarah.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 Jul 2009 23:17:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kaligrafi Realis Abstrak</title>
		<link>http://www.panduankaligrafi.com/2008/12/kaligrafi-realis-abstrak/</link>
		<comments>http://www.panduankaligrafi.com/2008/12/kaligrafi-realis-abstrak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Dec 2008 23:37:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aly Imron</dc:creator>
				<category><![CDATA[Contoh]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafi Abstrak]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafi Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafi Realis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.panduankaligrafi.com/?p=676</guid>
		<description><![CDATA[

Mungkin hanya kaligrafi yang bisa menggabungkan dua aliran lukis berlainan kutub. Abstrak namun realis. Realis namun juga abstrak. Sehingga susah menyebutnya perpihak pada siapa.
Pada awalnya kaligrafi memang abstrak. Huruf-huruf yang disapukan bukanlah merupakan tiruan dari benda-benda yang ada di sekeliling. Namun karena imajinasi manusia selalu mengasosiasikan bentuk &#8211;mungkin untuk mempermudah&#8211; akhirnya huruf alif disebut seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="captionfull"><img src="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/12/panduan-kaligrafi1.jpg" alt="panduan-kaligrafi1" title="panduan-kaligrafi1" width="604" height="403" class="aligncenter size-full wp-image-677" /></div>
<div class="captionfull"><img src="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/12/panduan-kaligrafi.jpg" alt="panduan-kaligrafi" title="panduan-kaligrafi" width="604" height="403" class="aligncenter size-full wp-image-678" /></div>
<p>Mungkin hanya kaligrafi yang bisa menggabungkan dua aliran lukis berlainan kutub. Abstrak namun realis. Realis namun juga abstrak. Sehingga susah menyebutnya perpihak pada siapa.</p>
<p>Pada awalnya kaligrafi memang abstrak. Huruf-huruf yang disapukan bukanlah merupakan tiruan dari benda-benda yang ada di sekeliling. Namun karena imajinasi manusia selalu mengasosiasikan bentuk &#8211;mungkin untuk mempermudah&#8211; akhirnya huruf <strong>alif</strong> disebut seperti <strong>tiang listrik</strong> yang condong sedikit ke kiri (untuk gaya naskhi). Huruf <strong>ba</strong> ada yang menyebutnya seperti <strong>perahu</strong> yang tengah berlayar. Asosiasi seperti ini sering kita temukan dibuku kaidah untuk memperkenalkan istilah-istilah.<br />
<span id="more-676"></span><br />
Anda sudah pernah mendengar <em>&#8216;ain finjani</em> atau <em>&#8216;ain shadi</em>? Dalam belajar kaligrafi ada beberapa istilah untuk menyebut bentuk huruf. <em>Ain finjani</em> merupakan huruf <em>ain</em> awal &#8211;disebut dalam gaya tsuluts&#8211; yang bersambung dengan huruf alif atau huruf ke atas. <em>Finjani</em> yang artinya cangkir (benar atau tidak ya?) itu merupakan pengasosiasian dengan bentuk cangkir yang cembung (<em>ndemblek</em> dalam bahasa Jawa). Sedangkan <em>&#8216;ain shadi</em> merupakan &#8216;<em>ain</em> awal biasa yang bersambung dengan huruf datar atau huruf menurun.</p>
<p>Namun kesemuanya itu hanya istilah. Istilah untuk menyebut keabstrakan menjadi realis.</p>
<p>Dan, kaligrafi yang abstrak kemudian seolah mencari bentuk untuk mendobrak &#8220;kesepiannya&#8221;. Bentuk-bentuk itu meruang, beraduk, bertumpuk-tumpuk, hingga tampak seperti rembulan yang muncul dibalik semburat awan. Atau, tiga ekor kuda liar yang seolah mencari jalan kebebasan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.panduankaligrafi.com/2008/12/kaligrafi-realis-abstrak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asmaul Husna di Tangan Desainer Iran</title>
		<link>http://www.panduankaligrafi.com/2008/11/asmaul-husna-di-tangan-desainer-iran/</link>
		<comments>http://www.panduankaligrafi.com/2008/11/asmaul-husna-di-tangan-desainer-iran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 11:27:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aly Imron</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Poster]]></category>
		<category><![CDATA[Asmaul Husna]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafi Kontemporer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.panduankaligrafi.com/?p=524</guid>
		<description><![CDATA[Ada perkumpulan desainer independen Iran (Iranian independent  						designers Society) yang secara priodik mengumpulkan karya-karya pada website mereka. Dengan mengambil topik tertentu, poster-poster cantik kemudian dikumpulkan. Seperti topik terakhir, mereka mengangkat tema asmaul husna. Dengan topik sederhana itu, sebagian kemudian mendesain dari salah satu dari 99 nama Allah yang dimuliakan.
Bagaimana hasilnya?

sumber: Today Posters
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada perkumpulan desainer independen Iran (Iranian independent  						designers Society) yang secara priodik mengumpulkan karya-karya pada <a href="http://www.todayposters.com/">website mereka</a>. Dengan mengambil topik tertentu, poster-poster cantik kemudian dikumpulkan. Seperti topik terakhir, mereka mengangkat tema asmaul husna. Dengan topik sederhana itu, sebagian kemudian mendesain dari salah satu dari 99 nama Allah yang dimuliakan.</p>
<p>Bagaimana hasilnya?</p>
<div id="attachment_525" class="wp-caption alignnone" style="width: 224px"><a href="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/11/alireza-hesaraki-2.jpg"><img class="size-medium wp-image-525" title="alireza-hesaraki-2" src="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/11/alireza-hesaraki-2-214x300.jpg" alt="Ya Nuur" width="214" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Ya Nuur, lihatlah cahaya yang bergerak</p></div><br />
<span id="more-524"></span><br />
<div id="attachment_526" class="wp-caption alignnone" style="width: 224px"><a href="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/11/ruhollah-gitinejad.jpg"><img src="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/11/ruhollah-gitinejad-214x300.jpg" alt="Rauf, lihatlah huruf fa yang dobel" title="ruhollah-gitinejad" width="214" height="300" class="size-medium wp-image-526" /></a><p class="wp-caption-text">Rauf, lihatlah huruf fa yang dobel</p></div>
<div id="attachment_527" class="wp-caption alignnone" style="width: 290px"><a href="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/11/bibi-shahrbano.jpg"><img src="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/11/bibi-shahrbano.jpg" alt="Wasi&#039;, seperti lipatan kertas" title="bibi-shahrbano" width="280" height="130" class="size-medium wp-image-527" /></a><p class="wp-caption-text">Wasi', seperti lipatan kertas</p></div>
<div id="attachment_528" class="wp-caption alignnone" style="width: 224px"><a href="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/11/mostafa-kalantari.jpg"><img src="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/11/mostafa-kalantari-214x300.jpg" alt="Dialah yang Haq" title="mostafa-kalantari" width="214" height="300" class="size-medium wp-image-528" /></a><p class="wp-caption-text">Dialah yang Haq</p></div>
<div id="attachment_529" class="wp-caption alignnone" style="width: 224px"><a href="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/11/nassir-bashiri-3.jpg"><img src="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/11/nassir-bashiri-3-214x300.jpg" alt="Bagaimana membacanya?" title="nassir-bashiri-3" width="214" height="300" class="size-medium wp-image-529" /></a><p class="wp-caption-text">Bagaimana membacanya?</p></div>
<p>sumber: <a href="http://www.todayposters.com/">Today Posters</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.panduankaligrafi.com/2008/11/asmaul-husna-di-tangan-desainer-iran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kaligrafi Huruf Berhimpitan</title>
		<link>http://www.panduankaligrafi.com/2008/10/kaligrafi-huruf-berhimpitan/</link>
		<comments>http://www.panduankaligrafi.com/2008/10/kaligrafi-huruf-berhimpitan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Oct 2008 17:28:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aly Imron</dc:creator>
				<category><![CDATA[Contoh]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafi Kontemporer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.panduankaligrafi.com/?p=470</guid>
		<description><![CDATA[Keindahan huruf Arab tidak hanya elok ketika dirangkai menjadi sebuah tulisan. Kaligrafer kontemporer banyak memanfaatkan keindahan itu untuk membuat kaligrafi dengan mengandalkan proporsi. Dengan huruf-huruf berhimpitan, sebuah karya yang indah pun dihasilkan. &#8220;Terbaca atau tidak bukan masalah,&#8221; seolah mereka berkata begitu. &#8220;Selain proporsi, kami ingin menghadirkan nuansa lain. Bisa juga sebagai ajang latihan menggoreskan huruf.&#8221;
Dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keindahan huruf Arab tidak hanya elok ketika dirangkai menjadi sebuah tulisan. Kaligrafer kontemporer banyak memanfaatkan keindahan itu untuk membuat kaligrafi dengan mengandalkan proporsi. Dengan huruf-huruf berhimpitan, sebuah karya yang indah pun dihasilkan. &#8220;Terbaca atau tidak bukan masalah,&#8221; seolah mereka berkata begitu. &#8220;Selain proporsi, kami ingin menghadirkan nuansa lain. Bisa juga sebagai ajang latihan menggoreskan huruf.&#8221;</p>
<p>Dalam area latihan, seorang kaligrafer kerap &#8220;kekurangan kertas&#8221;. Dengan memanfaatkan kertas yang &#8220;sedikit&#8221; itu kemudian mereka menuliskan kaligrafi di sana. Tentu saja dengan semaksimal mungkin. Makanya, yang terjadi kemudian huruf-huruf saling berhimpitan. Meski kadang tidak bisa dibaca, kaligrafi ini rupanya juga mengandung keindahan, seperti kaligrafi &#8220;terbaca&#8221; lainnya yang memiliki kualitas goresan.</p>
<p>Lihatlah dua contoh kaligrafi di bawah ini:</p>
<p><a href="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/10/berhimpitan-panduankaligrafi.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-471" title="berhimpitan-panduankaligrafi" src="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/10/berhimpitan-panduankaligrafi-210x300.jpg" alt="" width="210" height="300" /></a></p>
<p><span id="more-470"></span></p>
<p>Ini juga:</p>
<p><a href="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/10/berhimpitan-panduankaligrafi1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-472" title="berhimpitan-panduankaligrafi1" src="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/10/berhimpitan-panduankaligrafi1-210x300.jpg" alt="" width="210" height="300" /></a></p>
<p>Meski hanya sebuah coretan tanpa bisa &#8220;dibaca&#8221;, huruf-haruf kaligrafi berbentuk sempurna. Goresan ain bersambungn mim, sin bersambung dengan ain, fa bersambung dengan ra menggunakan kaidah baku.</p>
<p>Saya pernah menjumpai kaligrafer Iran membuat rangkaian huruf berhimpit-himpitan yang dapat dibaca secara sempurna. Yang saya bayangkan hanyalah bagaimana sulitnya membuat proporsi yang pas seperti itu? Sayangnya contoh kaligrafi itu belum berhasil saya temukan di ranah komputer yang saling berhubungan &#8211;internet.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.panduankaligrafi.com/2008/10/kaligrafi-huruf-berhimpitan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inikah Kaligrafi Kontemporer?</title>
		<link>http://www.panduankaligrafi.com/2008/09/inikah-kaligrafi-kontemporer/</link>
		<comments>http://www.panduankaligrafi.com/2008/09/inikah-kaligrafi-kontemporer/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 22:48:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aly Imron</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Pemeran Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafi Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Pameran Seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.panduankaligrafi.com/?p=418</guid>
		<description><![CDATA[Berjudul &#8220;Menyiasati Keindahan Yaasiin&#8220;, Majalah Tempo edisi minggu ini menurunkan liputannya. Pada rubrik Seni (Rupa) &#8211;yang setiap edisi selalu menghadirkan berita seputar kesenian di sekitar kita&#8211; itu memang judulnya tampak &#8220;menggoda&#8221; pembaca. Seperti saya, ketika membolak-balik halaman pinjaman dari teman kantor &#8211;maaf saya tidak berlangganan&#8211;, begitu terperangah oleh ulah para seniman yang dipamerkan di  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berjudul &#8220;<a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/09/22/SR/mbm.20080922.SR128250.id.html" target="_blank">Menyiasati Keindahan Yaasiin</a>&#8220;, <a href="http://majalah.tempointeraktif.com" target="_blank">Majalah Tempo</a> edisi minggu ini menurunkan liputannya. Pada rubrik Seni (Rupa) &#8211;yang setiap edisi selalu menghadirkan berita seputar kesenian di sekitar kita&#8211; itu memang judulnya tampak &#8220;menggoda&#8221; pembaca. Seperti saya, ketika membolak-balik halaman pinjaman dari teman kantor &#8211;maaf saya tidak berlangganan&#8211;, begitu terperangah oleh ulah para seniman yang dipamerkan di  Jogja Gallery, Jogjakarta.</p>
<p>Terperangah bukan karena keindahannya. Tetapi karena keanehan yang dihadirkan. Betapa tidak, ketika surah dalam Alquran &#8220;diterjemahkan&#8221; oleh para seniman, mereka seolah-oleh hendak &#8220;mencampurkan&#8221; ayat-ayat dengan representasi pribadi atau &#8220;tafsir sendiri&#8221; pada ayat-ayat yang dimuliakan.</p>
<p>Memang, dalam pengantar tulisan sudah diwanti-wanti perihal &#8220;keanehan-keanehan&#8221; itu. Di san tertulis, &#8220;Dengan gayanya sendiri, puluhan perupa berusaha menerjemahkan surat Yaasiin ke dalam elemen rupa secara bebas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Surat Yaasiin diterjemahkan secara bebas?&#8221; seolah saya ingin berteriak.</p>
<p>Seperti contoh, karya Edo Pillu bertajuk <em>Monalisa Mampir di Surga</em>, dengan &#8220;seenaknya&#8221; si pelukis menjiplak ayat-ayat surat Yaasiin di atas lukisan &#8220;Monalisa contekan&#8221;. <span id="more-418"></span></p>
<p>Dalam foto penyerta liputan, saya lihat lukisan &#8220;Monalisa&#8221; yang dibubuhi tulisan surat Yaasiin, persis seperti yang tertulis di <strong>Mushaf Utsmani</strong> &#8211;mulai dari bentuk tulisan mau pun penomoran ayat.</p>
<p>Dari mana unsur indahnya? Di sini pelukis seolah-oleh hendak menggabung kan dua hal yang jauh berlainan. Jadinya: aneh, tidak nyambung, dan mengada-ada.</p>
<p>Andai si pelukis melukis &#8220;Monalisa&#8221; seperti yang ada di museum Louver, Paris, misalnya, lukisan itu masih dapat dinikmati sebagai karya duplikasi. Unsur seninya masih ada meski nilainya sudah hilang karena karya itu adalah contekan. Namun ketika dibubuhkan jiplakan halaman surat Yaasiin, objek lukisan itu sendiri terhalang oleh huruf-huruf berwarna merah menyala yang dia gunakan.</p>
<p>Akankah tulisan ini dinikmati? Saya rasa tidak. Alih-alih dinikmati dan dibaca, menggunakan tinta warna merah saja sudah terkesan &#8220;sangar&#8221;. Apalagi menulis ayat-ayat Alquran di atas sebuah objek manusia. Sungguh jauh dari adab menulis kaligrafi.</p>
<p>Choiruddin misalnya, salah seorang pelukis lain yang berpartisipasi, melukis berupa sosok lelaki bertelanjang dada dengan bentuk hati. Di bagian dada dalam warna hijau diisi potongan teks Alquran. Meski melukisnya dengan gaya yang pakem, lukisan berjudul <em>The Other Side of Human</em> mengandung tanda tanya: kenapa ayat-ayat Alquran tertulis di lelaki yang bertelanjang dada? Agaknya lukisan ini mengandung tafsir sendiri. Hanya pelukisnya yang bisa menjelaskan kenapa, bagaimana, dan pertanyaan lain seputarnya.</p>
<p>Karya Catur Sugeng Kurniawan juga turut menghiasi halaman Majalah Tempo masih terlihat &#8220;sopan&#8221;. Di sana, dia menggambarkan aksara Arab bertaburan menutup siluet tubuh bagian atas figur manusia dalam warna monokrom lewat karya berjudul <em>Low and Lose</em>. Objek manusia &#8211;yang dilarang dalam sejarah Islam lewat lukisan&#8211; rupanya telah menjadi objek dalam seni &#8220;islami&#8221; kali ini.</p>
<p>Seperti inikah lukis kaligrafi kontemporer?</p>
<p>Entahlah, rasanya saya semakin muak dengan jenis-jenis kaligrafi yang kadang sangat &#8220;memaksa&#8221;.</p>
<p>Bolehlah Ramadan di isi oleh pameran-pameran semacam ini. Namun harusnya memandang karya itu sendiri: apakah layak untuk dipamerkan kepada khayalak &#8211;yang tentu saja salah satu dari mereka sangat mengerti tentang kaligrafi&#8211;? Jangan-jangan hanya &#8220;kejar setoran&#8221; mumpung bulan suci, kemudian mengambil tema-tema keislaman. Seperti acara televisi, ketika Ramadan penuh dengan acara-acara agamis yang justru sangat jauh dari nilai-nilai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.panduankaligrafi.com/2008/09/inikah-kaligrafi-kontemporer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
