<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Panduan Kaligrafi &#187; Kontemporer</title>
	<atom:link href="http://www.panduankaligrafi.com/tag/kontemporer/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.panduankaligrafi.com</link>
	<description>Tempat belajar kaligrafi, contoh-contoh, dan sejarah.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 Jul 2009 23:17:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kaligrafi Huruf Berhimpitan</title>
		<link>http://www.panduankaligrafi.com/2008/10/kaligrafi-huruf-berhimpitan/</link>
		<comments>http://www.panduankaligrafi.com/2008/10/kaligrafi-huruf-berhimpitan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Oct 2008 17:28:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aly Imron</dc:creator>
				<category><![CDATA[Contoh]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafi Kontemporer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.panduankaligrafi.com/?p=470</guid>
		<description><![CDATA[Keindahan huruf Arab tidak hanya elok ketika dirangkai menjadi sebuah tulisan. Kaligrafer kontemporer banyak memanfaatkan keindahan itu untuk membuat kaligrafi dengan mengandalkan proporsi. Dengan huruf-huruf berhimpitan, sebuah karya yang indah pun dihasilkan. &#8220;Terbaca atau tidak bukan masalah,&#8221; seolah mereka berkata begitu. &#8220;Selain proporsi, kami ingin menghadirkan nuansa lain. Bisa juga sebagai ajang latihan menggoreskan huruf.&#8221;
Dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keindahan huruf Arab tidak hanya elok ketika dirangkai menjadi sebuah tulisan. Kaligrafer kontemporer banyak memanfaatkan keindahan itu untuk membuat kaligrafi dengan mengandalkan proporsi. Dengan huruf-huruf berhimpitan, sebuah karya yang indah pun dihasilkan. &#8220;Terbaca atau tidak bukan masalah,&#8221; seolah mereka berkata begitu. &#8220;Selain proporsi, kami ingin menghadirkan nuansa lain. Bisa juga sebagai ajang latihan menggoreskan huruf.&#8221;</p>
<p>Dalam area latihan, seorang kaligrafer kerap &#8220;kekurangan kertas&#8221;. Dengan memanfaatkan kertas yang &#8220;sedikit&#8221; itu kemudian mereka menuliskan kaligrafi di sana. Tentu saja dengan semaksimal mungkin. Makanya, yang terjadi kemudian huruf-huruf saling berhimpitan. Meski kadang tidak bisa dibaca, kaligrafi ini rupanya juga mengandung keindahan, seperti kaligrafi &#8220;terbaca&#8221; lainnya yang memiliki kualitas goresan.</p>
<p>Lihatlah dua contoh kaligrafi di bawah ini:</p>
<p><a href="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/10/berhimpitan-panduankaligrafi.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-471" title="berhimpitan-panduankaligrafi" src="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/10/berhimpitan-panduankaligrafi-210x300.jpg" alt="" width="210" height="300" /></a></p>
<p><span id="more-470"></span></p>
<p>Ini juga:</p>
<p><a href="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/10/berhimpitan-panduankaligrafi1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-472" title="berhimpitan-panduankaligrafi1" src="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/10/berhimpitan-panduankaligrafi1-210x300.jpg" alt="" width="210" height="300" /></a></p>
<p>Meski hanya sebuah coretan tanpa bisa &#8220;dibaca&#8221;, huruf-haruf kaligrafi berbentuk sempurna. Goresan ain bersambungn mim, sin bersambung dengan ain, fa bersambung dengan ra menggunakan kaidah baku.</p>
<p>Saya pernah menjumpai kaligrafer Iran membuat rangkaian huruf berhimpit-himpitan yang dapat dibaca secara sempurna. Yang saya bayangkan hanyalah bagaimana sulitnya membuat proporsi yang pas seperti itu? Sayangnya contoh kaligrafi itu belum berhasil saya temukan di ranah komputer yang saling berhubungan &#8211;internet.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.panduankaligrafi.com/2008/10/kaligrafi-huruf-berhimpitan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagi, Kaligrafi Kontemporer</title>
		<link>http://www.panduankaligrafi.com/2008/10/lagi-kaligrafi-kontemporer/</link>
		<comments>http://www.panduankaligrafi.com/2008/10/lagi-kaligrafi-kontemporer/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Oct 2008 21:39:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aly Imron</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafer]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafer Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Mounir Al-Shaarani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.panduankaligrafi.com/?p=446</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah contoh karya Mounir Al-Shaarani. Seorang kaligrafer, penulis, dan juga desainer. Lahir di Syiria, menamatkan pendidikan di Born Fakultas Kesenian di Damaskus (1977). Dia belajar dari seorang kaligrafer hebat Syiria: Badawi Al-Dirany. Sejak 1968, dia bekerja sebagai kaligrafer dan desainer buku. Al-Shaarani telah mendesain banyak huruf-huruf yang digunakan untuk sampul buku karyanya maupun pekerjaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah contoh karya <strong>Mounir Al-Shaarani</strong>. Seorang kaligrafer, penulis, dan juga desainer. Lahir di Syiria, menamatkan pendidikan di Born Fakultas Kesenian di Damaskus (1977). Dia belajar dari seorang kaligrafer hebat Syiria: Badawi Al-Dirany. Sejak 1968, dia bekerja sebagai kaligrafer dan desainer buku. Al-Shaarani telah mendesain banyak huruf-huruf yang digunakan untuk sampul buku karyanya maupun pekerjaan pribadi. Dia telah berpameran secara internasional di Syria, Jordania, Lebanon, Mesir, Tunis, Algeria, Maroko, Bahrain, Abu Dhabi, Switzerland, Prancis, Jerman, Belgia, Italia, Yugoslavia, India, Inggris, dan AS. Dia tinggal dan bekerja di Kairo, Mesir.</p>
<p><a href="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/10/munir-pandu.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-447" title="munir-pandu" src="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/10/munir-pandu-209x300.jpg" alt="" width="209" height="300" /></a></p>
<p><span id="more-446"></span></p>
<p><a href="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/10/munir-pandu2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-448" title="munir-pandu2" src="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/10/munir-pandu2-256x300.jpg" alt="" width="256" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/10/munir-pandu3.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-449" title="munir-pandu3" src="http://www.panduankaligrafi.com/wp-content/uploads/2008/10/munir-pandu3.jpg" alt="" width="288" height="193" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.panduankaligrafi.com/2008/10/lagi-kaligrafi-kontemporer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inikah Kaligrafi Kontemporer?</title>
		<link>http://www.panduankaligrafi.com/2008/09/inikah-kaligrafi-kontemporer/</link>
		<comments>http://www.panduankaligrafi.com/2008/09/inikah-kaligrafi-kontemporer/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 22:48:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aly Imron</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Pemeran Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafi Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Pameran Seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.panduankaligrafi.com/?p=418</guid>
		<description><![CDATA[Berjudul &#8220;Menyiasati Keindahan Yaasiin&#8220;, Majalah Tempo edisi minggu ini menurunkan liputannya. Pada rubrik Seni (Rupa) &#8211;yang setiap edisi selalu menghadirkan berita seputar kesenian di sekitar kita&#8211; itu memang judulnya tampak &#8220;menggoda&#8221; pembaca. Seperti saya, ketika membolak-balik halaman pinjaman dari teman kantor &#8211;maaf saya tidak berlangganan&#8211;, begitu terperangah oleh ulah para seniman yang dipamerkan di  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berjudul &#8220;<a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/09/22/SR/mbm.20080922.SR128250.id.html" target="_blank">Menyiasati Keindahan Yaasiin</a>&#8220;, <a href="http://majalah.tempointeraktif.com" target="_blank">Majalah Tempo</a> edisi minggu ini menurunkan liputannya. Pada rubrik Seni (Rupa) &#8211;yang setiap edisi selalu menghadirkan berita seputar kesenian di sekitar kita&#8211; itu memang judulnya tampak &#8220;menggoda&#8221; pembaca. Seperti saya, ketika membolak-balik halaman pinjaman dari teman kantor &#8211;maaf saya tidak berlangganan&#8211;, begitu terperangah oleh ulah para seniman yang dipamerkan di  Jogja Gallery, Jogjakarta.</p>
<p>Terperangah bukan karena keindahannya. Tetapi karena keanehan yang dihadirkan. Betapa tidak, ketika surah dalam Alquran &#8220;diterjemahkan&#8221; oleh para seniman, mereka seolah-oleh hendak &#8220;mencampurkan&#8221; ayat-ayat dengan representasi pribadi atau &#8220;tafsir sendiri&#8221; pada ayat-ayat yang dimuliakan.</p>
<p>Memang, dalam pengantar tulisan sudah diwanti-wanti perihal &#8220;keanehan-keanehan&#8221; itu. Di san tertulis, &#8220;Dengan gayanya sendiri, puluhan perupa berusaha menerjemahkan surat Yaasiin ke dalam elemen rupa secara bebas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Surat Yaasiin diterjemahkan secara bebas?&#8221; seolah saya ingin berteriak.</p>
<p>Seperti contoh, karya Edo Pillu bertajuk <em>Monalisa Mampir di Surga</em>, dengan &#8220;seenaknya&#8221; si pelukis menjiplak ayat-ayat surat Yaasiin di atas lukisan &#8220;Monalisa contekan&#8221;. <span id="more-418"></span></p>
<p>Dalam foto penyerta liputan, saya lihat lukisan &#8220;Monalisa&#8221; yang dibubuhi tulisan surat Yaasiin, persis seperti yang tertulis di <strong>Mushaf Utsmani</strong> &#8211;mulai dari bentuk tulisan mau pun penomoran ayat.</p>
<p>Dari mana unsur indahnya? Di sini pelukis seolah-oleh hendak menggabung kan dua hal yang jauh berlainan. Jadinya: aneh, tidak nyambung, dan mengada-ada.</p>
<p>Andai si pelukis melukis &#8220;Monalisa&#8221; seperti yang ada di museum Louver, Paris, misalnya, lukisan itu masih dapat dinikmati sebagai karya duplikasi. Unsur seninya masih ada meski nilainya sudah hilang karena karya itu adalah contekan. Namun ketika dibubuhkan jiplakan halaman surat Yaasiin, objek lukisan itu sendiri terhalang oleh huruf-huruf berwarna merah menyala yang dia gunakan.</p>
<p>Akankah tulisan ini dinikmati? Saya rasa tidak. Alih-alih dinikmati dan dibaca, menggunakan tinta warna merah saja sudah terkesan &#8220;sangar&#8221;. Apalagi menulis ayat-ayat Alquran di atas sebuah objek manusia. Sungguh jauh dari adab menulis kaligrafi.</p>
<p>Choiruddin misalnya, salah seorang pelukis lain yang berpartisipasi, melukis berupa sosok lelaki bertelanjang dada dengan bentuk hati. Di bagian dada dalam warna hijau diisi potongan teks Alquran. Meski melukisnya dengan gaya yang pakem, lukisan berjudul <em>The Other Side of Human</em> mengandung tanda tanya: kenapa ayat-ayat Alquran tertulis di lelaki yang bertelanjang dada? Agaknya lukisan ini mengandung tafsir sendiri. Hanya pelukisnya yang bisa menjelaskan kenapa, bagaimana, dan pertanyaan lain seputarnya.</p>
<p>Karya Catur Sugeng Kurniawan juga turut menghiasi halaman Majalah Tempo masih terlihat &#8220;sopan&#8221;. Di sana, dia menggambarkan aksara Arab bertaburan menutup siluet tubuh bagian atas figur manusia dalam warna monokrom lewat karya berjudul <em>Low and Lose</em>. Objek manusia &#8211;yang dilarang dalam sejarah Islam lewat lukisan&#8211; rupanya telah menjadi objek dalam seni &#8220;islami&#8221; kali ini.</p>
<p>Seperti inikah lukis kaligrafi kontemporer?</p>
<p>Entahlah, rasanya saya semakin muak dengan jenis-jenis kaligrafi yang kadang sangat &#8220;memaksa&#8221;.</p>
<p>Bolehlah Ramadan di isi oleh pameran-pameran semacam ini. Namun harusnya memandang karya itu sendiri: apakah layak untuk dipamerkan kepada khayalak &#8211;yang tentu saja salah satu dari mereka sangat mengerti tentang kaligrafi&#8211;? Jangan-jangan hanya &#8220;kejar setoran&#8221; mumpung bulan suci, kemudian mengambil tema-tema keislaman. Seperti acara televisi, ketika Ramadan penuh dengan acara-acara agamis yang justru sangat jauh dari nilai-nilai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.panduankaligrafi.com/2008/09/inikah-kaligrafi-kontemporer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Huruf</title>
		<link>http://www.panduankaligrafi.com/2008/08/huruf/</link>
		<comments>http://www.panduankaligrafi.com/2008/08/huruf/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 00:26:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aly Imron</dc:creator>
				<category><![CDATA[Definisi]]></category>
		<category><![CDATA[Font]]></category>
		<category><![CDATA[Huruf]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panduankaligrafi.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Awalnya adalah coretan, kemudian mengalami pergeseran. Huruf timbul setelah evolusi simbol. Bukan lagi spesifik, tapi bisa dirangkai menjadi bermacam-macam &#8220;kalimat&#8221;. Ketika huruf-huruf di blog ini terangkai, tentu Anda kemudian bisa membaca. Tanpa huruf, mustahil &#8220;kalimat&#8221; saya bisa tersampaikan.
Namun tidak sesederhana itu akhirnya. Meskipun huruf sudah &#8220;ditemukan&#8221;, akhirnya menemukan ruang untuk mempercantik bentuk. Dari sanalah muncul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awalnya adalah coretan, kemudian mengalami pergeseran. Huruf timbul setelah evolusi simbol. Bukan lagi spesifik, tapi bisa dirangkai menjadi bermacam-macam &#8220;kalimat&#8221;. Ketika huruf-huruf di blog ini terangkai, tentu Anda kemudian bisa membaca. Tanpa huruf, mustahil &#8220;kalimat&#8221; saya bisa tersampaikan.</p>
<p>Namun tidak sesederhana itu akhirnya. Meskipun huruf sudah &#8220;ditemukan&#8221;, akhirnya menemukan ruang untuk mempercantik bentuk. Dari sanalah muncul bermacam-macam corak, meskipun hurufnya sama. Dalam kaligrafi juga demikian. Ada bermacam-macam corak, sebagaimana huruf-huruf mutakhir yang sudah dirumuskan oleh program komputer: font.<br />
<span id="more-16"></span><br />
Ada times, arial, serif, dan lain sebagainya. Masing-masing jenis mempunyai keluarga sendiri-sendiri yang memiliki kemiripan. Seperti arial dan helvetica misalnya, keduanya tampak mirip satu dengan yang lain meskipun keduanya berbeda.</p>
<p>Huruf &#8220;H&#8221; tanpa terangkai dengan &#8220;uruf&#8221; bukanlah apa-apa. Kecuali memang dimaksudkan untuk membuat seseorang bertanya-tanya.</p>
<p>Kalimat &#8220;Jangan buang sampah sembarangan&#8221; misalnya, yang tertulis di sebuah halaman sekolahan akhirnya menjadi penyampai bahwa di halaman tersebut seseorang dilarang membuang sampah seenaknya sendiri. Yang bisa membaca mudah mengerti. Yang belum, perlu &#8220;dipertanyakan lagi&#8221;.</p>
<p>Huruf menggantikan simbol yang memiliki bermacam-macam makna. Huruf menyampaikan bahasa.</p>
<p>Setelah melewati fungsi huruf, bentuk menjadi bagian lain yang memperkuat penyampaian. Jenis satu dengan yang lain mempunyai karakter berbeda. &#8220;Jangan buang sampah sembarangan&#8221; tertulis arial, mudah dibaca, bukan dengan huruf latin yang mempunyai karakter lembut.</p>
<p>Huruf arab jenis kufi misalnya, memiliki karakter kotak-kotak (kubisme) yang memberi kesan kokoh. Kelenturan diwani, dan goresan farisi memberi keluwesan dalam menyampaikan makna dalam tulisan. Dari keperluan fungsi penyampaian akhirnya muncul bermacam-macam bentuk dan gaya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.panduankaligrafi.com/2008/08/huruf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
